Metrotvnews. Persentase perempuan Indonesia yang menikah di usia anak atau di bawah 18 tahun masih tinggi. Pada 2015, ada 23 persen perempuan usia 20 hingga 24 tahun yang menikah sebelum usia 18 tahun.
Angka ini kalau dari UNICEF masih tinggi secara absolut. atau nol," kata Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan Bappenas Subandi Sardjoko di Hotel San Pan Pasific, Jalan M. H. Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (20/7/2016).
Berdasarkan data yang dimiliki Bappenas, angka pernikahan usia anak dalam tujuh tahun terakhir cenderung menurun, meski tetap di atas angka 20 persen. Pada 2008, angka pernikahan usia anak sebanyak 27,4 persen.Pada 2009 sebanyak 25,8 persen, 2010 sebanyak 24,5 persen, 2011 sebanyak 24,7 persen, dan pada 2012 menjadi 25 persen.
Namun, angka itu kembali menurun di 2013 menjadi 24,2 persen. Lalu, pada 2014 sebanyak 24,3 persen dan 2015 menurun menjadi 23 persen.
Angkanya setiap tahun menurun. Tapi ini masih tinggi," ucap Subandi.
Penekanan angka pernikahan usia anak ini terjadi lantaran perubahan demografi di beberapa daerah. Meski demikian, angka ini masih belum sesuai harapan.
Tingkat pernikahan usia anak yang masih tinggi ini harus diturunkan," tegas Subandi.
Badan Pusat Statistik (BPS) bersama UNICEF meluncurkan buku bertajuk `Analisi Data Perkawinan Usia Anak di Indonesia`. Peluncuran buku ini dianggap penting bagi BPS, UNICEF, dan pemerintah, karena menjabarkan bahwa saatBadan Pusat Statistik (BPS) bersama UNICEF meluncurkan buku bertajuk `Analisi Data Perkawinan Usia Anak di Indonesia` ini masih ada masalah besar di Tanah Air terkait tingginya angka pernikahan usia anak.
Pernikahan usia anak masih 23 persen," kata Deputi Bidang Statistik Sosial BPS Sairi Hasbullah.
Menurut Sairi, peluncuran buku ini menjadi momentum penting untuk kembali megingatkan bahwa masih ada masalah dalam pernikahan usia anak. Berbagai kemajuan memang telah dicapai, namun masalah besar, seperti pernikahan usia anak, belum terselesaikan di Indonesia.
Masalah tersebut memunculkan gap besar antara perkotaan dan pedesaan. Pasalnya, angka pernikahan usia anak di pedesaan cenderung lebih besar ketimbang di perkotaan.
Di kota 17 persen, di desa 27 persen yang menikah di usia anak-anak," ujar Sairi.
