Pasca-ledakan bom bunuh diri diri Mapolresta Solo, Jawa Tengah, polisi menggeledah rumah kediaman Nur Rohman di Sangkrah, Pasar Kliwon, Solo, Jawa Tengah.
Penggeledahan yang dilakukan tim Detasemen Khusus (Densus) 88 antiteror Mabes Polri di rumah terduga pelaku bom bunuh diri, Nur Rohman ini adalah yang kedua.
Penggeledahan awal dilakukan sesaat terduga pelaku bom bunuh diri melakukan aksi hirarkinya di Mapolresta Solo.
dalam penggeledahan kedua, yang dilakukan sebelum salat Jumat, dilakukan tertutup hampir dua jam.
Kasat Reskrim Polresta Solo Kompol Safrudin mengatakan, penggeledahan kedua yang kembali dilakukan oleh polisi dikediaman Nur Rohman ini untuk mencari pembanding sidik jari serta mencari barang bukti lainnya yang kemungkinan masih tersisa setelah penggeledahan sebelumnya.
Penggeledahan ini untuk mencari pembanding sidik jari dan kemungkinan barang bukti lainnya yang tersisa,"ungk Safrudin pada wartawan di Solo, Jawa Tengah, Jumat (8/7/2016).
Dalam penggeledahan yang disaksikan langsung oleh istri terduga pelaku bom bunuh diri, Siti Aminah,ti Densus 88 menemukan tiga benda mencurigakan.
Ketiga benda yang ditemukan tersebut di antarannya sebuah bubuk yang ditemukan terletak disudut ruangan di rumah terduga.
Pada barang bukti tersebut, juga ditemukan sidik jari yang sama dengan sidik jari di helm yang dipakai terduga.
Selanjutnya barang bu yang ditemukan dirumah ini aka dibawa ke laboratorium untuk diteliti,"ungkapnya.
Penggeledahan yang mendapatkan penjagaan dari pasukan Dalmas bersenjata lengkap ini menarik perhatian warga sekitar.
Mereka melihat jalannya penggeledahan dari jarak cukup jauh. Menurut salah satu warga, yang enggan namannya ditulis mengatakan sosok Nur Rohman ini menghilang setelah Tim Densus melakuan penggeledahan disebuah counter handphon dua tahun lalu di kawasan Losari, Sangkrah.
Selain memperistri wanita bercadar, warga pun pernah melihat terduga bersama temannya ini berada di dalam masjid. Sebenarnya warga kesal dengan ulah Nur Rohman ini, pasalnya, tiga masjid yang ada di kampung mereka justru lebih banya dikuasai oleh Nur Rohman bersam teman-temannya.
Orangnya tidak pernah bersosialisasi denga warga. Selain memperistri seorang perempuan menggunakan cadar, Nur Rohman kerap terlihat bersama teman-temannya di masjid. Yang membuat warga kesal, masjid itukan untuk umum, tapi justru dikuasai oleh kelompok mereka,"ujar warga tersebut.
